Author: Dulur Baraya
•2/06/2011 08.13.00 AM

Sedikit berbagi kisah mengenai acara Buka Puasa Bareng yang sudah 3 kali terjadi, yang berarti sudah 3 tahun kita melewati Bulan Ramadhan ketika sudah saling mengenal. Dimulai ketika kita masih duduk di bangku kelas XI hingga terakhir ketika kita kita sudah duduk di bangku kuliah. Cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Hhaha .. inget pelajaran Basa Indonesia


Waroeng Steak - BSM ..

Buka puasa bareng. Inilah kali pertama kita bersama di luar sekolah. Dan kebersamaan itu memang belum terasa, orang-orang nya pun masih pada omdo (ups. maap !). Hampir sekelas kita ngerencanain acara buka bareng dan banyak yang sudah memberi saran serta menyetujui untuk Buka Puasa Bareng di Waroeng Steak daerah Lodaya. Namun, yang datang hanyalah sekitar 12 orang saja. Mereka adalah Wenie, Hana, Vi
na, Lisna, Maisa, Icca, Vana, Allam, Reza, Maul, Kika, dan saya tentunya. Awalnya kita kumpul di sekolah dan cukup banyak dari siswa kelas lain yang juga merencanakan buka bareng dengan kelasnya masing dan massa-nya terlihat lebih banyak dari massa kelas kita. Sambil menunggu yang lain, para lelaki maraen bola dulu (Bolanya minjem dari pos satpam). Hanya tatajongan sih tapi tetep weh cape (eucreug sugan). Saya pun najong bolanya sambil nyeker karena ditakutkan sendalnya ngacleng. Alhasil kaki saya agak kotor bari ngesang. Tapi ketika itu, waktu berbuka memang sudah tidak lama lagi sehingga kita tak perlu lama-lama menahan rasa haus. Dan kita pun segera bergegas berangkat menuju TKP untuk ber-Buka Puasa Bareng. Para wanita pergi dengan menggunakan mobilnya Vina, sedangkan para lelaki menaiki motor. Singkat cerita sampai lah di Waroeng Steak dan kita pun rada sedikit menggeser meja agar kita semua cukup dalam satu titik tempat duduk. Meskipun rada pasedek-sedek, tapi itulah yang namanya kebersamaan (sok terharu lah mun diinget-inget mah. salut !!). Kebersamaan pertama yang saya rasakan bersama mereka saat berada di luar sekolah.
Mesan ini itu, sambil ngobrol sana-sini. Asik lah pokokna mah. Setelah selesai makan, kita berencana untuk main dulu sebelum pulang ke rumah masing-masing. Setelah badami, kita pun segera berangkat ke Bandung Super Mall. Ngobrol-ngobrol dulu di depan BSM sambil sekedar popotoan, hingga kemudian kita memutuskan untuk bermain di Kota Fantasi. Di sana, kita hanya menaiki 2 wahana, yaitu Jet Coaster dan Ontang-Anting. Tanpa disengaja, ternyata di tempat yang sama ada kembarannya Vana, yakni Vani sedang bersama temannya (takdir meureunnya. Hhehe ..). Setelah itu kita pulang ke rumah masing-masing dengan rasa capek dan hati senang beserta harapan bahwa kebersamaan ini dapat terus berlanjut.


Mc. Donald's ..Buka Puasa Bareng kedua bersama Dulur Baraya. Kali ini kita sudah duduk di bangku kelas XII, kebersamaan semakin terasa daripada 1 tahun sebelumnya. Awalnya sih bingung mau nentuin kemana, polling pun diadakan yakni Ampera, Bu Imas dan sebagainya. Hingga akhirnya kita memutuskan menunjuk Mc. Donald's Buah Batu sebagai tempat pelabuhan kita untuk ber-Buka Puasa Bareng. Kebetulan di tempat itu, Muthia ada yang kenal sehingga tidak ada kesulitan dalam hal pem-booking-an terutama untuk jumlah massa yang cukup banyak. Kita pun mengajak Bu Evi menghadiri acara itu dan Bu Evi pun setuju.
Hari-H pun tiba, saya langsung berangkat menuju TKP bersama Icuk. Hari masih sore, namun kemacetan sudah melanda daerah Buah Batu yang memang suka macet itu. Secara tak sengaja, di tempat itu saya bertemu dengan Ilyas (KM XII-B1, kabogohna Muthia). Ternyata dia memang sengaja datang, karena akan bertemu dengan Muthia sebentar. Dia baru saja selesai les di GO Solontongan yang berada tak jauh dari tempat kita berada. Ngobrol-ngobrol dulu sama Ilyas sambil nunggu yang lain, dia sempet ngobrol tentang Muthia juga (Moal dicaritakeun, privacy eta mah. Hhehe .. langsung ke kejadian berikutnya. ). Tak lama kemudian, kawan-kawan berdatangan secara estafet. Ngobrol-ngobrol dulu di luar sambil nunggu yang lain. Kita cek tempat dulu ke dalam, eh ternyata tempat kita di luar. Tepat di samping restoran Amerika tersebut. Meskipun keadaannya memang kurang memadai, namun tidak masalah karena dengan berada di satu titik akan lebih terasa kebersamaannya. Bu Evi pun datang bersama suami dan anaknya. Namun, suaminya lebih memilih menunggu di dalam mobil. Anak nya Bu Evi mendapat pengasuhan spesial dari beberapa kawan kita, salah satunya Misbah. Diajak main sosorodotan di dalam restorannya hingga di luar pun mendapat penjagaan yang cukup baik. Ternyata tidak semua dapat hadir, hanya Risca, Gita dan Yuyun yang tidak hadir dikarenakan beberapa alasan. Inilah acara pertama di luar sekolah yang bisa dihadiri hampir oleh seluruh penghuni kelas XII-B4, bahkan Hesty pun ikut bersama kita dalam acara ini. Kebersamaan yang akan selalu saya ingat.
Adzan maghrib pun berkumandang, kita semua segera berbuka. Menu kita saat itu adalah nasi + daging ayam, minuman bersoda serta 1 cup es krim. Terlihat lah wajah-wajah orang yang kelaparan di sini. Mereka memakan semuanya dengan lahap. Saya pun hanya bisa tersenyum melihat semua itu dengan harapan semua akan kembali terulang suatu saat nanti. Selesai makan, kita pun popotoan dulu sejenak sambil ngarenghab. Setelah itu, kita semua menunaikan shalat maghrib dan kemudian kita semua segera bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing.

Ampera ..
Buka Puasa Bareng ketiga bersama Dulur Baraya, 06 September 2010. Kali ini kita sudah duduk di bangku kuliah tanpa embel-embel putih abu. Lokasinya kali ini adalah Ampera Soekarno-Hatta. Peserta nya tidak terlalu banyak, hanya sekitar 20 orang. Kecewa ? tentu. Bangga ? pasti. Kecewa karena tidak semua bisa ikut seperti tahun sebelumnya, bangga karena ternyata mereka masih mempunyai keinginan kuat untuk tetap bersama.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, beberapa dari kita ada yang berencana kumpul di skolah karena tidak tahu lokasi-nya. Saya, Maul dan Icuk (2 sahabat saya sejak SMP) terlebih dahulu datang ke sekolah agar dapat menemani mereka yang belum tahu lokasinya. Hujan pun datang tanpa komando, kita berteduh terlebih dahulu di kios depan SD Big Pond alias Balonggede. Ternyata tidak ada seorang pun yang datang, akhirnya kita memutuskan untuk menuju lokasi sambil huhujanan karena khawatir sudah ada yang menunggu di TKP. Dan ternyata lagi, setelah sampai belum ada siapa pun yang datang padahal sudah janjian jam setengah 5-an dengan rencana kita bisa ngobrol-ngobrol dulu di dalam rumah makan tersebut. Ya sudahlah, biarkan semuanya berjalan sesuai kehendak masing-masing. SMS dan telepon pun datang silih berganti memasuki hape saya dari beberapa kawan yang memang akan datang. Cukup lama menunggu, Lisna dan Galih tiba di lokasi dan yang lainnya segera berdatangan satu per satu. Waktu buka puasa tinggal setengah jam lagi, kita pun memutuskan untuk segera masuk dan menempati kursi yang masih kosong. Beberapa orang ada yang telat datangnya dikarenakan masalah hujan dan transportasi. Kita menduduki meja yang agak terakhir, sambil menjaga beberapa kursi agar tetap kosong karena teman kita yang akan datang agak terlambat. Setelah semua terisi, kita pun bergegas mengambil makanan di meja yang telah disediakan karena waktu ber-Buka Puasa tinggal beberapa menit lagi. Antrian cukup panjang dan seperti biasa sambil hareureuy heula jadi weh tambah lama. Haha ..
Waktu ber-Buka Puasa tiba, kita semua langsung makan makanan yang telah kita bawa tanpa basa-basi. Selesai makan, kaos Dulur Baraya beserta CD dan stiker saya bagikan. Stiker saya bagikan juga kepada beberapa kawan yang tidak memesan kaos dengan mengambil jatah yang lain terlebih dahulu karena saya lupa tidak membawa stiker yang memang sudah disediakan. Kemudian dilanjut dengan shalat maghrib di lantai bawah rumah makan tersebut. Setelah shalat maghrib, kita merencanakan untuk main terlebih dahulu dengan tujuan yang masih bingung. Kita pun memutuskan pergi ke Braga untuk sekedar popotoan. Rombongan sempat terpisah, ketika memasuki daerah Kebon Kalapa yang disebabkan kemacetan yang sudah diduga sebelumnya. Potongan rombongan saya memutuskan untuk melewati tempat kita menimba ilmu dengan seragam putih abu, yakni SMA Pasundan 1 Bandung yang kemudian kita pun popotoan terlebih dahulu di depan lokasi tersebut. Perjalanan pun kita lanjutkan menuju Braga melewati Asia-Afrika dan sejenak kita berhenti tepat di sebelah Sungai Cikapung yang juga berada di sebelah Gedung Merdeka. Popotoan lagi weh tungtungna mah. Tak lama kemudian, kita segera bergegas menuju Braga tepat di depan Circle K, tak jauh dari Braga City Walk. Dan popotoan lagi weh, ya mau bagaimana lagi. Hari semakin malam dan semakin dingin dengan suasana yang masih ramai di sekitar Braga. Setelah popotan, kita pun segera bergegas pulang menuju rumah masing-masing.

bobsepers write on dulur-baraya.blogspot.com

Salajengna...
Author: Dulur Baraya
•11/06/2010 12.41.00 PM


Dimulai dari adanya info dari Irmawati mengenai lomba foto kelas yang diselenggarakan oleh Yamaha, kita pun iseng-iseng coba ikutan. Dengan persiapan yang sangat minim dan atribut yang tidak begitu indah, Alhamdulillah kita bisa jadi Juara 3, yang tidak kami duga sebelumnya. Cerita akan dimulai dari persiapan sebelum lomba "Photo Contest" dan setelah "Photo Contest" (judulnya juga euforia jadi pasti terjadi setelahnya). Namun, mohon maaf jika ceritanya tidak lengkap, dikarenakan keterbatasan otak saya dalam mengingat kejadian lampau. Kita langsung awali ceritanya. Check it out !!!

Pada hari yang lupa lagi, Ima punya ide buat iseng-iseng ikutan lomba foto kelas di BSM. Lombanya hari sabtu tanggal 28 November 2009, dan kebetulan sekolah sedang libur. Ternyata teman-teman sekelas setuju buat ikutan. Kemudian, tercetuslah sebuah ide untuk atribut yang dipakai yaitu baju warna biru dan merah. Teman-teman pun menyetujuinya. Keesokan harinya, ada ide tambahan untuk atribut yaitu tulisan YAMAHA beserta lambangnya. Dengan segenap kemampuan dan kreatifitas, akhirnya rancangannya telah tercipta yaitu dengan menggunakan kardus bekas namun ditutupi dengan karton putih.

Hari Jum'at, sehari sebelum lomba "Photo Contest" dimulai, pembuatan atribut tambahan langsung digeder seharian. (seharian kitu nya ? agak lupa lagi euy, tapi yakin bener sih.. Lokasi yang digunakan yaitu lokasi yang sudah tidak asing lagi, yakni rumahnya Uhe. Saat itu saya datang agak telat, dikarenakan ada beberapa hal. Ketika datang pun sudah cukup banyak orang yang ada di rumah Uhe, mereka terdiri dari Uhe-nya sendiri, Farkhan, Allam, Alex, Mul, Ima, dan Ipeh. (rarasaan mah masih ada lagi, tapi samar-samar euy bisi salah). Seharian kita ngegeder semuanya sampe beres, hingga sore menjelang malam alias hampir maghrib atawa wancik janari masalah kardus sudah selesai dengan ditutup oleh karton putih. Semua full tertutup oleh karton, dengan rencana depan dan belakangnya ada tulisan yaitu YAMAHA dan PAZONE. Yang perempuan kemudian pulang ke rumahnya masing-masing, tapi yang laki-laki meneruskan pekerjaannya membuat tulisan PAZONE dan YAMAHA, namun kita menunggu seseorang yang memang cukup ahli yakni Ndott. Dia-lah yang membuat tulisan dasarnya, kemudian dibantu oleh yang lain untuk mewarnai hurufnya. Sampai larut malam kita mengerjakan itu semua, mata pun sudah tak karuan. Hingga akhirnya, kita semua terpaksa menginap di rumah Uhe. Singkat cerita selesai lah semuanya, tinggal dibawa untuk esok hari. Meskipun sudah ngantuk, tapi tetap ada ide untuk mengabadikannya dengan foto, dansebelum tidur foto-foto dulu bersama hasil kerja keras kita semua. Jujur saja, saat itu saya agak sulit tidur karena ada 1 hal yang selalu terpikirkan oleh saya. Saya bangga punya teman-teman seperti mereka, demi kebaikan kelas mereka rela bekerja keras hingga larut malam. Disitu saya hanya bisa tersenyum, tanpa bisa berbuat apa-apa untuk membalas kebaikan mereka.

Pagi pun tiba dan ternyata kita bangun tidak sesuai rencana alias agak kesiangan bangunnya, kita semua langsung bangun dengan segera karena jam 8 pagi kita harus sudah ada lagi di lokasi yang sama untuk membawa atribut menuju BSM. Alhamdulillah, pagi itu kita dibuatkan nasi goreng untuk sarapan oleh Bibi-nya Uhe. Setelah sarapan, kita langsung pulang ke rumah masing-masing untuk persiapan "Photo Contest". Sesampainya di rumah, saya langsung mandi dengan rurusuhan dan secepatnya berganti pakaian, hanya sekitar 30 menit saya berada di rumah ketika itu. Singkat cerita, langsung saya berangkat ke rumah Uhe untuk mengambil kardus dan segera berangkat lagi menuju BSM. Sampai lah di BSM, kita semua langsung stand by di satu tempat yaitu di tangga depan BSM sambil menunggu yang lain datang. Tak berapa lama, kita semua langsung pindah di samping BSM untuk persiapan "Photo Contest". Ada yang foto-foto, ada yang lagi ber-make up, ada yang duduk santai, dsb. Semua sudah terlihat bosan dengan keadaan yang ada, karena kita harus menunggu cukup lama untuk memulai acara-nya. Namun, ada satu masalah yang melanda yaitu kita kekurangan orang dan tidak sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Dengan singkat, tercetuslah ide untuk mengajak pengunjung Bandung Super Mall yang memakai baju merah agar bersedia ikut "Photo Contest" dan Alhamdulillah kita berhasil mengajak 3 orang berbaju merah untuk ikut lomba "Photo Contest". Akhirnya kita pun langsung dipanggil untuk difoto, semuanya langsung mengatur posisi untuk berfoto. Setalah acara selesai kita sempat pesimis untuk menang, karena melihat peserta lain dengan gaya dan atribut yang bagus-bagus dan lebih bagus dari atribut yang kita pakai. Namun, asa untuk menjadi pemenang masih ada dan saya hanya bisa berharap. Jikalau memang kita tidak menjadi salah satu pemenang, kita sempat pasrah dan menjadikannya sebagai pengalaman. Pengumuman pemenang akan diumumkan keesokan harinya.

Tanggal 29 November 2009, pengumuman pemenang akan segera diumumkan pada sore hari. Pikiran saya pabaliut antara berhasil dan tidak berhasil. Untuk menunggu pengumuman, Ima mengajak saya untuk menunggu hasilnya bersama di BSM. Siang harinya saya sempat ke BSM untuk mengurus beberapa hal bersama kakak saya, namun masih ada acara kabaret dan masih lama juga jika menunggu hingga sore sehingga saya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Saya janjian dengan Ima sekitar jam 3-an di BSM, tapi jam 2-an ternyata ada dulur viking cyber nyampeur ke rumah saya sambil menunggu hujan reda katanya, terpaksa ketika itu saya agak telat datangke BSM nya (hampura ah). Sekitar jam setengah 4-an saya pun langsung pergi ke BSM. Sesampainya di BSM, ternyata acara diundur termasuk untuk pengumuman pemenang lomba "Photo Contest" dikarenakan hujan dan ternyata acaranya masih lomba kabaret yang tadi siang saya lihat. Namun, beberapa kegiatan acara tetap berlangsung. Sambil ngiuhan dan sambil ngobrol sama Ima, kita menyaksikan kegiatan yang ada. Dan ternyata pembawa acara-nya alias MC-nya adalah 3 orang yang sudah tidak asing bagi saya sebagai bobotoh Persib dan sebagai Urang Bandung. Mereka adalah Roni, Helmi, dan Wanda atau yang lebih dikenal sebagai grup Urban. Entah kenapa, setiap mereka membawakan sebuah acara saya selalu tertarik untuk melihatnya meskipun acaranya biasa-biasa aja tapi jika mereka yang membawakan sok bodor wae. Banyolan-banyolan mereka terkadang fresh dan sunda pisan lah. (kembali ke cerita ah). Hujan tak kunjung reda, dan acara kabaret pun dilaksanakan dengan sangat terpaksa di atas panggung yang sebelumnya pangguna itu digunakan untuk pertunjukkan musik. Kemudian, ada kabar bahwa pengumuman pemenang "Photo Contest" akan dilaksanakan malam hari pada akhir acara. Pikiran saya tambah pabaliut, pikiran tentang hasil akhir-nya dan mengenai masalah lapar dan dingin. Saat malamnya ada pertunjukkan musik, saya dan Ima nongton dulu sambil huhujanan dan sambil nunggu pengumuman. Saat rehat sejenak, iseng-iseng ke Gramedia melihat-lihat buku. Acara pun dimulai kembali, kita nongton lagi sambil huhujanan lagi. Akhirnya, pengumuman pemenang "Photo Contest" telah tiba pada waktunya. Hate asa dag dig dug ketika kertas yang berisi pemenang sudah ada di tangan sang MC. Ternyata, yang pertama disebutkan adalah SMA Pasundan 1 Bandung, sebagai juara ketiga. Saya dan Ima langsung tepuk tangan, dan ternyata yang tepuk tangan hanya kita berdua. (haha .. kocak lah pokok na mah). Kita langsung ke samping panggung, kemudian Ima naik ke atas panggung untuk mengambil piala dan hadiahnya. Alhamdulillah, sedih sekaligus bahagia saya melihat gelar juara ke-3. Sedih karena tidak semuanya bisa ikut merasakan juara 3 itu, karena yang ikut hanya 24 orang dari seluruh murid di kelas dan bahagia karena hasil kerja keras dan perjuangan kita dapat menghasilkan gelar juara 3. Dan bagi saya, itu adalah pengalaman yang sangat berkesan yang hanya akan terjadi satu kali seumur hidup. Saya dan Ima tersenyum melihat semua itu dengan perasaan yang sangat bahagia dengan hadiah uang 1 juta rupiah, foto dengan bingkai, sebuah trophy juara 3 dan sebuah pengalaman paling berkesan. Karena kebetulan kita berdua lapar dan lelah, akhirnya kita memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Kita langsung menuju food court di lantai atas dan berjalan dengan rasa bangga sambil membawa sebuah piala dan foto. Dan ternyata, di food court kita hanya foto-foto dengan sebuah piala dan dengan uang 1 juta rupiah berisikan pecahan 50 ribu rupiah karena akhirnya kita memutuskan untuk makan di Hoka-Hoka Bento yang berada di lantai bawah.

Keesokan harinya, yakni hari senin tanggal 30 November 2009. Saya membawa sebuah foto, dan Ima membawa sebuah piala juara 3 ke sekolah untuk diberitahukan kepada teman-teman di kelas. Kemudian, Ima pun melaporkan semua itu kepada Pak Memo dan saat upacara kelas kita menjadi eksis karena ada pengumuman mengenai gelar juara 3 tersebut. Foto dan piala disimpan di sekolah sebagai sebuah penghargaan. Pembagian uang pun berlangsung bagi yang ikut acara "Photo Contest", masing-masing orang mendapatkan sekitar 40 ribu-an. Di kelas kita merencanakan untuk merayakan kemenangan kita dengan makan-makan menggunakan uang juara 3 yang merupakan hasil jerih payah, lokasinya di Waroeng Steak pada sore hari bersama Bu Evi. Beberapa teman ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Namun, saat pelaksanaannya yang datang hanyalah saya, Uhe, Ima, Muthia dan Allam yang datang hanya sebentar karena akan mengikuti les di GO. Bu Evi berhalangan untuk hadir. Yang terjadi saat makan-makan di Waroeng Steak mah, tidak akan saya ceritakan disini(urusan pribadi eta mah). Jadi, cukup sekian dari saya.
Terima Kasih

Bobsepers at dulur-baraya.blogspot.com

Salajengna...
Author: Dulur Baraya
•7/13/2010 12.45.00 PM


Tak terasa sudah 2 tahun kita bareng-bareng di kelas, perpisahan kelas udah dilaksanakan di villa daerah Subang atau Lembang ( nu eta weh lah pokok na mah ). Perjuangan sebenernya kerasa banget, mulai dari ngurus anak-anaknya yg ikut, transportasi, survey sana-sini, konsumsi juga. Tapi semua seolah kebayar pas liat keluarga Dulur Baraya + Pak Dian pada seneng dan ketawa-ketawa di sana dengan kegiatan dan keadaan yang seadanya. Meskipun Bu Evi sebagai wali kelas ga ikut dan ga semua nya ikut, tapi tetep suasana seru. asa kabayar kacape teh. Pingin sih sebenernya ngadain acara lagi, meskipun harus capek kesana-kesini, tapi klo ngeliat Dulur Baraya bisa seneng, terbakar sudah semua keringat ini.

Bermula saat masih direncanakan, kelas XII-B4 pada ngobrol sama Bu Evi di kelas kemudian tercetuslah sebuah ide untuk perpisahan kelas. Meskipun sempat ada beberapa kendala, tapi Alhamdulillah semua lancar. Terikat lah sebuah ide untuk berendam di Subang, tepatnya di Sariater. Kemudian ada rencana buat survey ke sana, dan kemudian ditentukan harinya . Langsung weh nyarita di villa na lah, lama dan panjang klo nyeritain masalah behind the scene nya mah. Okeh .. okeh ..

Breettt .. hujan besar nan dingin langsung menyambar kita semua yang sudah stand by di halaman Masjid Agung Provinsi Jawa Barat. Konsumsi masih ada di rumah Alex, hujan-hujanan weh tungtungna mah dengan dirinya. Sampai di rumahnya, Ibu nya Alex masih ngebungkusin. Akhirnya, ikut ngebantuin dulu biar cepet selesai ( sambil agak isin karena udah ngerepotin ). Si Hengpon asa eundeur wae, karena ada yang nelepon wae lagi. Kabar serem, si sopir udah ga sabar cenah, terpaksa agak dicepetin ngebungkusnya. Singkat cerita selesai ngebungkus, beserta membawa beberapa peralatan sampai motor heurin. Berangkat lah kita semua dari tempat stand by menuju TKP. Saya naik motor dengan Alex pake helm yang minjem punya Vana. Disingkat-singkat weh lah caritana, nu penting nyarita pas di villa na, da nu rame na mah didinya. Sementara transit dulu, nunggu Pak Dian. Saya tukeran posisi dengan Ndoth, jadi saya yg naek mobil. Perjalanan cukup jauh juga disertai pemandangan dari beberapa hamparan kebun teh dan akhirnya sampai lah kita di TKP. Geus lah tong rea ngadongeng deui, langsung carita pas di villa. Kagok, sakalian nyarita di perjalanan menuju villan oge.

Turun dari mobil, terpaksa harus jalan kaki karena mobil sulit untuk masuk. Suasana kebun sangat menyegarkan terutama saat menuju villa melalui jalan berbatu, hamparan hijau daun teh begitu menyemarakan suasana. Pagar besi yang sedikit using sudah terlihat, itu tandanya kita telah sampai di villa. Tiba-tiba terlihat sebuah asap mengepul, namun itu adalah asap dari kolam air hangat. Sudut kiri terlihat seperti hutan yang belum terjamah, begitu masuk sudah terlihat kesederhanaan dari villa itu. Ada sebuah kamar yang nyengcle, tidak menyatu dengan ruangan lainnya. Belok ke sebelah kanan, langsung terlihat sebuah ruang keluarga dan di luarnya terdapat sebuah dapur beserta tempat untuk memanggang dan cuci piring. Berkumpul sejenak di pelataran dapur sambil nyanghunjar karena cararangkeul.

Sampai di sana hampir menjelang maghrib, karena kita semua umat muslim, maka kita shalat ashar dulu dikarenakan belum masuk ke waktu maghrib. Ngantri di bawah ngambil air wudhu sambil menahan dinginya udara petang itu, satu per satu telah selesai. Hingga saya lah yang rada terakhir kabagean bareng sama Ima. Selesai shalat, entah refleks atau apalah namanya. Akhirnya saya salaman dengan Ima ( siga biasa lamun beres shalat ), beuh …. Dipikir-pikir maghrib hanya tinggal hitungan menit, ari sayah teu inget. Jadi weh, ngambil kembali air wudhu diselimuti angin malam. Titirisan deui, gara-gara Ima yeuh. Selesai shalat maghrib, makanan langsung digotong ke atas ( anu bieu mungkusan ). Kaca dimana-mana, sajadah ke segala arah, dan ada beberapa korsi cukup tertata rapih saat makan malam akan hadir. Tapi, kita semua memilih untuk ngariung membentuk sebuah lingkaran. Lesehan, makannya pake nasi dus ( gaya yeuh nasi dus ). Sambil makan ada yang popotoan seperti biasa. Hmm .. rasa lapar seolah tak bisa lagi dihindari, langsung saja dimakan semuanya. Ada yang bawa additional food alias makanan tambahan dan ada juga yang bawa temennya ac milan, yaitu ce milan. Terlihat canda dan tawa kecil dari teman-teman, keakraban yang agak sulit untuk bisa terulang kembali. Alhamdulillah … makan udah selesai. Sebagian langsung beberes, perempuan diungsikan ke kamar si seberang, karena tidak mungkin sekamar dengan laki-laki. Sambil menunggu waktu, ngarenghab heula sejenak nongton TV yang pake Indovision. Dari sini lah terlihat, kita sebagai orang kampung yang maen ke tengah kebon teh. Langsung semua nonton acara yang tidak ada kalo pake antena FV Goceng dan sebagainya. Abong-abong gratis nongton eta TV, sampai-sampai itu TV ti saprak eta keneh, sampai kita pulang dari villa keesokan harinya hurung weh tuluy meskipun tidak ada yang menonton.

Asyik … inilah yang ditunggu-tunggu, kolam air hangat. Semua telah siap sedia untuk berendam, baik laki-laki maupun perempuan. Yang merobek keperawanan kolam itu pertama kali adalah Randi alias Ndoth dengan sepuntung rokok di tangannya. Kemudian semua masuk satu per satu, terkecuali saya yang terakhir masuk, karena saya masih memegang kamera untuk popotoan. Seperti gajah yang baru bisa terbang, semua terlihat senang sambil ketawa-ketiwi. Air hangat itu seolah sangat menjajikan di tengah hembusan angin malam. Dengan saung di sampingnya yang ada tempat untuk ngahawu, lalu ada tempat bersantai yang seperti rumah panggung di seberangnya dan alam yang sangat gelap di sudut lainnya. Semua terlihat sangat senang, ada yg main oray-orayan, aakodan, balap lumpat, dan lain sajabana. Bahkan terkadang keisengan muncul yang disertai gelak tawa semua orang yang sedang ngeueum. Namun tidak semua bertahan lama di situ, ada yang langsung keluar dari kolam itu, yakni Allam. Ketika yang lain masih berendam, dia sudah siap sedia dengan baju berkerah yang bergaris.

Semua telah keluar dari kolam itu, ada beberapa yang langsung mandi sekalian membilas tubuh mereka agar tidak baru belerang. Semua mandi di kamar mandi, kecuali saya, Yoga, Maul, dan Wiwit. Kami mandi dengan air pegunungan asli (cenah mah). Wajow … air nya begitu dingin menusuk tulang, tapi seger. Sampai akhirnya ya sudah lah. Segera mungkin semua masuk ke ruang yang ada TV, seperti ruang keluarga. Keripik pedas yang dibawa dari Bandung langsung dibuka, semua langsung memakannya dengan lahap, termasuk saya yang menghabiskan 4 bungkus. Tapi, peristiwa daru datang. Air telah habis, tidak yang bawa lagi. Terpaksa saya harus beli air. Di ditulah timbul ide iseng-iseng pelipur lara. Dengan alasan beli air saya pergi keluar menuju tempat dekat kolam air hangat. Kemudian, saya isi botol itu dengan mata air pegunungan asli yang tadi saya, Yoga, Maul, dan Wiwit pakai untuk membilas badan setelah berendam. Haha …. Yang tahu hal itu hanya, mungkin hanya kami berempat. Tapi tetap saja itu air habis diminum oleh para lelaki yang kebakaran lidahnya karena keripik pedas itu. Opera Van Java pun langsung menemani kita semua dengan kehadiran orang botak plontos yang merupakan kipper Persib, Markus Haris Maulana atau lebih dikenal Markus Horison. Gelak tawa menghiasi suasana saat itu hingga acara berakhir. Selesai acara OVJ, Alex ngajakan nyari warung mau beli rokok plus kopi cenah. Keluar lah kita berdua, mencari sebuah warung yang masih buka di malam itu. Suasana begitu gelap gulita ketika keluar dari villa, yang ada hanyalah penerangan dari sang bulan dan sang bintang. Hingga kita memasuki sebuah daerah ( sepertinya hanya sa RT eun ), kita langsung mencari warung kesana-kemari. Dan terlihat lah sebuah warung yang sudah tutup kala itu, namun digedor weh ku duaan. Si penjaga warung langsung membukakan pintu warung, dan meladeni pembelian rokok dan kopi. Waktu pun telah menunjukkan sekitar jam 10 malam.

Eng .. ing … eng … Waktunya bakar ayam !!! Semua langsung beraksi. Ayam langsung diambil, paranti ngabakar plus arangnya langsung dipasang, kecap sudah siap sedia, tapi ada satu masalah. Ngahurungkeun arengna make naon ? Segala daya dan upaya telah dicoba, mulai dari membakar kardus di bawah arang nya, lalu membakar koran bekas, hingga akhirnya terlihatlah seonggok motor mio hitam yang pasti ada bensinnya. Timbul lagi masalah, nyedot na pake apa ? piraku ditonggengkun. Akhirnya, mencobalah seorang Yoga dengan sedotan untuk aqua gelas ( nu leutik tea ), tapi angger weh hese da ngan saeutik-saeutik. Kemudian, terlihatlah sebuah selang yang pasti milik si kuncen villa. Tanpa rasa berdosa, dipotong lah itu selang ( tapi teu panjang teuing, ngan saeutik. Hampura ah ). Dan berhasil lah, kita mengeluarkan segelas bensin yang sempat membludak dari gelas aqua yang sudah disediakan. Aye … arang berhasil dinyalakan. Untuk masalah ngagiberan, serahkan pada ahlinya yaitu Allam. Pertama-tama, kecap ditaburkan di sebuah piring ( tapi asa bukan piring ). Kemudian, oles semua ayam dengan kecap yang telah tersedia hingga merata ke seluruh bagian dan tusuk ayam satu per satu. Lalu, bakar ayam pada tempatnya hingga menurut Allam sudah matang. Selanjutnya, angkat ayam yang sudah matang lalu simpan di tempat yang beralaskan plastic yang untuk nasi ( entahlah apa namanya ). Hmm … delicious. Meskipun ada beberapa yang over asak tapi tak apalah, semua tetap menikmatinya. Ada yang langsung dimakan tanpa nasi, namun ada juga yang makan dengan nasi ( kalaparan sigana mah ). Ada yang ngambil nasi sebungkus ewang, ada yang berdua, bahkan ada yang segitiga alias sebungkus bagi tiga. Tapi, saat itu persediaan air telah habis, dan terpaksa saya harus beli air untuk minum Dulur Baraya. Dan pergilah saya membawa botol aqua yang 1 liter untuk “membeli” air yang asli dari pegunungan. Saya isi full botol itu dengan mata air pegunungan asli ( lagi ). Haha … Tapi, saat saya tinggal sejenak, ternyata air itu telah habis oleh orang-orang yang kehausan, bahkan perempuan pun ada yang minum air itu ( Hampura pisan ). Saya pun berdoa, semoga air itu menjadi barokah bagi semuanya. Lagi-lagi suasana itu terasa menggembirakan dan akan selalu dikenang. Selesai makan semua masuk ruang keluarga lagi, tapi ada sebagian yang masih diam di luar. Uhe ketika itu sedang mencari acara yang seru di televisi ( tentunya channel yang luar negeri, kan pake Indovision ), hingga tertera sebuah acara yang menurut saya asyik, request lah saya kepada Uhe. Acara itu adalah Heroes 4 ( pernah tayang di Indonesia, tapi hanya sampai Heroes 2 ), acara seri televisi yang menurut saya cukup bagus karena menampilkan beberapa orang yang memiliki kekuatan super. Selesai nongton kita langsung beranjak ke tempat yang kita inginkan masing-masing.

Waktu terus bergulir hingga malam pun tiba, saat itu saya langsung naik ke atas melewati sebuah tangga dari kayu dan lokasinya bertepatan dengan sebuah bar, namun tak ada barang-barangnya, hanya desainnya saja dan di sebelahnya terdapat bekas kolam ikan yang sekarang sudah ditutup dengan semen. Tangga untuk masuk ke atas, seperti tangga zaman baheula, masuknya pun seperti orang yang menyelinap. Di atas ternyata sudah ada Uhe sedang ngagoler ( tunduh siga na mah ) dan akhirnya kita ngobrol ngaler-ngidul sambil makan keripik yang entah punya siapa bahkan masih terbungkus rapi sama sekali, akhirnya itu keripik habis, kemudian muncul Icuk ke atas dan dia bilang itu keripik yang dia temukan saat makan nasi dus tadi. Haha .. tapi keripiknya sudah habis dimakan oleh saya dan Uhe. Jadi weh, kita ngobrol ngulon-wetan bertiga hingga akhirnya muncul lagi seseorang, yaitu Pak Dian, guru BP kita yang mendampingi acara ini karena wali kelas berhalangan hadir. Jadi saja, kita ngobrol nya berempat saling bercerita sambil diselingi canda bahkan Pak Dian bercerita tentang dirinya saat ini dan saat sebelum menjadi guru BP. Malam semakin malam, hampir semua tertidur termasuk yang tadi ngobrol dengan saya. Namun saya belum tidur, iseng-iseng saja turun ke bawah, ternyata masih ada Maul dan Ndoth yang diam di bawah, ada Yoga yang setia dengan cikopi dan ududnya, ada Muthia dengan hapenya yang disimpan di telinga sedang teteleponan entah dengan siapa yang nun jauh disana, ada Alex yang tertidur di sofa dekat bar dengan siku menutupi wajahnya, ada Wiwit yang tidur dengan bantal dan selimut di sofa ruang tamu, dan ada juga Lisna dan Galih yang sedang silih tangkeup. Ngobrol sejenak dengan Yoga di kursi bar, ngobrol tentang komputer dan game Point Blank. Saya pun sudah sedikit ngantuk, dan naik ke atas mencari tempat untuk tidur sejenak. Namun tetap saja sulit untuk tidur, bahkan ada yang selalu menanyakan “can sare, Mar ?“ ( moal beja-beja saha ) sampai saya bosen mendengarnya, akhirnya saya sedikit menjauhi dia menuju sebuah karpet. Namun, ada pemandangan yang cukup aneh, yaitu ketika Icuk dan Uhe tidur di kursi tetapi Pak Dian tidur di karpet. ( teu sopan eta budak duaan ).

Pagi pun tiba, jengjeng …. Masalah kembali datang, makan pagi harus disiapkan untuk para peserta perpisahan kelas XII-B4. Dengan pemikiran yang tidak begitu panjang, saya dan Alex langsung menghubungi Ima sebagai pengatur uang. Kami pun langsung setuju ketika ada ide untuk beli makan di luar, 50 ribu rupiah harus cukup untuk semua yang hadir. Bergegaslah Alex mengambil motornya, langsung berangkat keluar villa menuju atas. Nanya sana-sini, ternyata tidak ada yang berjualan makanan yang kita inginkan bahkan ada yang mengusulkan untuk ke Subang ( tepat nama daerahnya lupa ). Namun, itu urung terlaksana. Kita kembali ke villa untuk menambah biaya makan, sebelum sampai villa ternyata di situ ada Pak Dian, Isti, Bella dan Wina sedang popotoan. Kita ngobrol dulu sejenak, sampai akhirnya Pak Dian menawarkan kita uang untuk nambah uang sarapan dan kita pun akan menggantinya nanti saat di villa ( karena jauh deui mun ka vila, jadi terpaksa mengambil usulan itu ). Setelah sampai ke jalan raya, tanpa basa-basi langsung membeli nasi goreng, tapi nasi gorengnya hanya tinggal 9 porsi lagi. Waduh … tak apalah, akhirnya kita membeli nasi goreng itu. Sambil menunggu, kita melihat pemandangan kebut teh yang terhampar hijau sangat rapi dan bersih. Nasi goreng pun telah siap saji, langsung kita bawa ke villa. Sebelumnya, kita berbicara dulu dengan Ima untuk mengganti uang Pak Dian tadi, tapi Pak Dian menolak untuk menerima penggantian uang tadi meskipun sudah dipaksa, ya sudahlah. Hatur Nuhun Pak Dian. Semua nasi goreng pun kita amparkan, di meja dapur dengan alas bungkus nasi biar terlihat agak banyak. Teng … timbul sebuah ide, yaitu nasi disanguan. Melihat nasi putih sisa semalam yang masih layak untuk dimakan, kita campurkan nasi putih itu dengan nasi goreng agar terlihat banyak ( wayahna nya ). Alhamdulillah, tidak ada yang komplain masalah itu, semua bisa memaklumi karena biaya yang kurang memadai. Perempuan didahulukan untuk makan nasi itu terlebih dahulu, sedangkan laki-laki nonton TV terlebih dahulu. Semua perempuan member sinyal bahwa telah selesai makan, dan kini giliran laki-laki yang makan. Saat mau makan, kita semua heran. Kok nasinya masih banyak, tadi perempuan pada makan apa ? karena yang habis hanya kerupuknya saja. Ya sudahlah, kita semua langsung menghabiskan semua nasi yang ada dengan silih rawu pake tangan. Makanan telah habis, namun masalah klasik kembali menghadang yaitu air minum yang tidak ada. Dengan sangat terpaksa untuk ketiga kalinya, saya “membeli” lagi air dari mata air pegunungan asli. Setelah kenyang, kita semua berkumpul lagi di ruang keluarga ngobrol sana-sini, kemudian kita semua naik ke atas ( entah kenapa semua laki-laki ngumpul di atas ). Kemudian, Galih mengajak untuk kembali berendam. Ya okelah, meskipun tidak semua kembali berendam. Setelah selesai, semua kembali bersiap dan beberes untuk pulang. Sambil menunggu mobil datang, kita semua popotoan terlebih dahulu. Mobil warna hijau yang menjemput pun datang, ada 1 yang spesial dari mobil itu yakni lambing Persib terpampang di pintu mobil. Kami masih menunggu 1 mobil datang, karena katanya sedang ada urusan terlebih dahulu.

Tiba-tiba hujan langsung menghujam kita semua, sebagian ada yang berteduh di saung dan ada yang berteduh di dalam mobil. Saya pun berteduh di saung yang ada di sebelah kolam air hangat. Ngobrol sambil ngemil di saung itu bersama teman-teman yang lain, sambil ada yang popotoan. Dan seperti biasa, saya membawa perbekalan minum dari mata air pegunungan asli. Dibawalah oleh saya ke saung itu, namun ada beberapa yang tahu akan hal itu, karena tempat “membeli” air itu tak jauh dari lokasi saung tempat kita berteduh berada. Hingga suatu saat, orang-orang yang ada di dalam mobil kehausan dan meminta air. Kemudian saya berikan kembali air pegunungan itu kepada mereka tanpa mereka sadari. Hhaha …. Setelah menunggu sekian lama, datanglah sebuah mobil carry, tapi ternyata bukan mobil itu yang akan kita gunakan, melainkan mobil yang sama dengan mobil yang pertama datang. Tak berapa lama, datang mobil kedua. Kita semua pun langsung bersiap pulang. Setelah beberapa orang naik mobil itu, terlihat keganjalan dari mobil itu. Bannya bocor !!! Dengan sangat terpaksa kita jadi menaiki mobil carry yang sebelumnya datang. Keun bae lah.

Perjalanan pulang cukup lumayan jauh. Hujan kembali menemani kepulangan kita menuju Bandung ... Geus tong nyarita deui lah, panjang teuing. Okelah kalau begitu. Singkat cerita kita semua kembali pulang ke Bandung dengan selamat.

Kisah ini akan selalu terkenang dalam diriku. Sebuah kisah yang sangat indah tentang sebuah keluarga.

Terima kasih, Dulur Baraya.


Bobsepers write on dulur-baraya.blogspot.com

Salajengna...